ETIKA BISNIS DAN ISU TERKAIT
Menurut kamus, istilah etika memiliki beragam makna berbeda. Salah satu maknanya
adalah “prinsip tingkah laku yang mengatur individu dan kelompok”. Makna kedua
menurut kamus – lebih penting – etika adalah “kajian moralitas”. Tapi meskipun
etika berkaitan dengan moralitas, namun tidak sama persis dengan moralitas.
Etika adalah semacam penelaahan, baik aktivitas penelaahan maupun hasil
penelaahan itu sendiri, sedangkan moralitas merupakan subjek.
A. Moralitas
Moralitas adalah pedoman yang dimiliki individu atau kelompok mengenai apa itu
benar dan salah, atau baik dan jahat.
Pedoman moral mencakup norma-norma yang kita miliki mengenai jenis-jenis
tindakan yang kita yakini benar atau salah secara moral, dan nilai-nilai yang
kita terapkan pada objek-objek yang kita yakini secara moral baik atau secara
moral buruk. Norma moral seperti “selalu katakan kebenaran”, “membunuh orang
tak berdosa itu salah”. Nilai-nilai moral biasanya diekspresikan sebagai
pernyataan yang mendeskripsikan objek-objek atau ciri-ciri objek yang bernilai,
semacam “kejujuran itu baik” dan “ketidakadilan itu buruk”. Standar moral
pertama kali terserap ketika masa kanak-kanak dari keluarga, teman, pengaruh
kemasyarakatan seperti gereja, sekolah, televisi, majalah, music dan
perkumpulan.
Hakekat standar moral :
Standar moral berkaitan dengan persoalan yang kita
anggap akan merugikan secara serius atau benar-benar akan menguntungkan
manusia.
Standar moral tidak dapat ditetapkan atau diubah oleh
keputusan dewan otoritatif tertentu.
Standar moral harus lebih diutamakan daripada nilai lain
termasuk (khususnya) kepentingan diri.
Standar moral berdasarkan pada pertimbangan yang tidak
memihak.
Standar moral diasosiasikan dengan emosi tertentu dan
kosa kata tertentu.
Standar moral, dengan demikian, merupakan standar yang berkaitan dengan persoalan
yang kita anggap mempunyai konsekuensi serius, didasarkan pada penalaran
yang baik bukan otoritas, melampaui kepentingan diri, didasarkan pada
pertimbangan yang tidak memihak, dan yang pelanggarannya diasosiasikan
dengan perasaan bersalah dan malu dan dengan emosi dan kosa kata tertentu.
• Apa itu “etika bisnis”?
• Apa saja enam tingkatan dalam membangun moral?
• Perlukah standar moral diaplikasikan dalam bisnis?
• Kapan seseorang secara moral bertanggung jawab untuk perbuatan salahnya?
Tidak ada cara yang paling baik untuk memulai penelaahan hubungan antara etika
dan bisnis selain dengan mengamati, bagaimanakah perusahaan riil telah
benar-benar berusaha untuk menerapkan etika ke dalam bisnis. Perusahaan Merck
and Company dalam menangani masalah “river blindness” sebagai contohnya ;
River blindness adalah penyakit sangat tak tertahankan yang menjangkau 18 juta
penduduk miskin di desa-desa terpencil di pinggiran sungai Afrika dan Amerika
Latin.
Penyakit dengan penyebab cacing parasit ini berpindah dari tubuh melalui
gigitan lalat hitam. Cacing ini hidup dibawah kulit manusia, dan bereproduksi
dengan melepaskan jutaan keturunannya yang disebut microfilaria yang menyebar
ke seluruh tubuh dengan bergerak-gerak di bawah kulit, meninggalkan
bercak-bercak, menyebabkan lepuh-lepuh dan gatal yang amat sangat tak
tertahankan, sehingga korban kadang-kadang memutuskan bunuh diri.
Pada tahun 1979, Dr. Wiliam Campbell, ilmuwan peneliti pada Merck and Company,
perusahaan obat Amerika, menemukan bukti bahwa salah satu obat-obatan hewan
yang terjual laris dari perusahaan itu, Invernectin, dapat menyembuhkan parasit
penyebab river blindness. Campbell dan tim risetnya mengajukan permohonan
kepada Direktur Merck, Dr. P. Roy Vagelos, agar mengijinkan mereka
mengembangkan obat tersebut untuk manusia.
Para manajer Merck sadar bahwa kalau sukses mengembangkan obat tersebut,
penderita river blindness terlalu miskin untuk membelinya. Padahal biaya riset
medis dan tes klinis berskala besar untuk obat-obatan manusia dapat
menghabiskan lebih dari 100 juta dollar.
Bahkan, kalau obat tersebut terdanai, tidak mungkin dapat mendistribusikannya,
karena penderita tinggal di daerah terpencil. Kalau obat itu mengakibatkan efek
samping, publisitas buruk akan berdampak pada penjualan obat Merck. Kalau obat
murah tersedia, obat dapat diselundupkan ke pasar gelap dan dijual untuk
hewan,sehingga menghancurkan penjualan Invernectin ke dokter hewan yang selama
ini menguntungkan.
Meskipun Merck penjualannya mencapai $2 milyar per tahun, namun pendapatan
bersihnya menurun akibat kenaikan biaya produksi, dan masalah lainnya, termasuk
kongres USA yang siap mengesahkan Undang-Undang Regulasi Obat yang akhirnya
akan berdampak pada pendapatan perusahaan. Karena itu, para manajer Merck
enggan membiayai proyek mahal yang menjanjikan sedikit keuntungan, seperti
untuk river blindness. Namun tanpa obat, jutaan orang terpenjara dalam
penderitaan menyakitkan. Setelah banyak dilakukan diskusi, sampai pada
kesimpulan bahwa keuntungan manusiawi atas obat untuk river blindness terlalu
signifikan untuk diabaikan. Keuntungan manusiawi inilah, secara moral
perusahaan wajib mengenyampingkanbiaya dan imbal ekonomis yang kecil. Tahun
1980 disetujuilah anggaran besar untuk mengembangkan Invernectin versi manusia.
Tujuh tahun riset mahal dilakukan dengan banyak percobaan klinis, Merck
berhasil membuat pil obat baru yang dimakan sekali setahun akan melenyapkan
seluruh jejak parasit penyebab river blindness dan mencegah infeksi baru.
Sayangnya tidak ada yang mau membeli obat ajaib tersebut, termasuk saran kepada
WHO, pemerintah AS dan pemerintah negara-negara yang terjangkit penyakit
tersebut, mau membeli untuk melindungi 85 juta orang beresiko terkena penyakit
ini, tapi tak satupun menanggapi permohonan itu. Akhirnya Merck memutuskan
memberikan secara gratis obat tersebut, namun tidak ada saluran distribusi
untuk menyalurkan kepada penduduk yang memerlukan. Bekerjasama dengan WHO,
perusahaan membiayai komite untuk mendistribusikan obat secara aman kepada
negara dunia ketiga, dan memastikan obat tidak akan dialihkan ke pasar gelap
dan menjualnya untuk hewan. Tahun 1996, komite mendistribusikan obat untuk
jutaan orang, yang secara efektif mengubah hidup penderita dari penderitaan
yang amat sangat, dan potensi kebutaan akibat penyakit tersebut. Merck
menginvestasikan banyak uang untuk riset, membuat dan mendistribusikan obat
yang tidak menghasilkan uang, karena menurut Vegalos pilihan etisnya adalah
mengembangkannya, dan penduduk dunia ketiga akan mengingat bahwa Merck membantu
mereka dan akan mengingat di masa yang akan dating. Selama bertahun-tahun
perusahaan belajar bahwa tindakan semacam itu memiliki keuntungan strategis
jangka panjang yang penting.
Para ahli sering berkelakar, bahwa etika bisnis merupakan sebuah kontradiksi
istilah karena ada pertentangan antara etika dan minat pribadi yang
berorientasi pada pencarian keuntungan. Ketika ada konflik antara etika dan
keuntungan, bisnis lebih memilih keuntungan daripada etika.
Buku Business Ethics mengambil pandangan bahwa tindakan etis merupakan strategi
bisnis jangka panjang terbaik bagi perusahaan – sebuah pandangan yang semakin
diterima dalam beberapa tahun belakangan ini.
-->
Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (selanjutnya
dalam artikel akan disingkat CSR) adalah suatu konsep bahwa organisasi,
khususnya (namun bukan hanya) perusahaan adalah memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen,
karyawan,
pemegang saham,
komunitas
dan lingkungan
dalam segala aspek operasional perusahaan. CSR berhubungan erat dengan "pembangunan berkelanjutan", di
mana ada argumentasi bahwa suatu perusahaan dalam melaksanakan aktivitasnya
harus mendasarkan keputusannya tidak semata berdasarkan faktor keuangan,
misalnya keuntungan atau deviden melainkan juga harus berdasarkan konsekuensi sosial
dan lingkungan untuk saat ini maupun untuk jangka panjang.
Analisis
dan pengembangan
Hal ini yang menjadi perhatian terbesar dari peran
perusahaan dalam masyarakat telah ditingkatkan yaitu dengan peningkatan
kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan dan masalah etika. Masalah seperti
perusakan lingkungan, perlakuan tidak layak terhadap karyawan, dan cacat
produksi yang mengakibatkan ketidak nyamanan ataupun bahaya bagi konsumen
adalah menjadi berita utama surat kabar. Peraturanpemerintah
pada beberapa negara
mengenai lingkungan hidup dan permasalahan sosial
semakin tegas, juga standar dan hukum
seringkali dibuat hingga melampaui batas kewenangan negara pembuat peraturan
(misalnya peraturan yang dibuat oleh Uni Eropa.
Beberapa investor
dan perusahaam manajemen investasi telah mulai
memperhatikan kebijakan CSR dari Surat perusahaan dalam membuat keputusan
investasi mereka, sebuah praktek yang dikenal sebagai "Investasi bertanggung jawab sosial"
(socially responsible investing). Banyak pendukung CSR yang memisahkan CSR dari
sumbangan sosial dan "perbuatan baik" (atau kedermawanan seperti
misalnya yang dilakukan oleh Habitat for Humanity atau Ronald McDonald House), namun sesungguhnya
sumbangan sosial merupakan bagian kecil saja dari CSR. Perusahaan di masa
lampau seringkali mengeluarkan uang untuk proyek-proyek komunitas,
pemberian beasiswa
dan pendirian yayasan sosial. Mereka juga seringkali menganjurkan dan mendorong
para pekerjanya untuk sukarelawan (volunteer)
dalam mengambil bagian pada proyek komunitas sehingga menciptakan suatu itikad
baik di mata komunitas tersebut yang secara langsung akan meningkatkan reputasi
perusahaan serta memperkuat merek
perusahaan. Dengan diterimanya konsep CSR, terutama triple bottom line,
perusahaan mendapatkan kerangka baru dalam menempatkan berbagai kegiatan sosial
di atas. Kepedulian kepada masyarakat sekitar/relasi
komunitas dapat diartikan sangat luas, namun secara singkat dapat dimengerti
sebagai peningkatan partisipasi dan posisi organisasi di dalam sebuah komunitas
melalui berbagai upaya kemaslahatan bersama bagi organisasi dan komunitas. CSR
bukanlah sekedar kegiatan amal, di mana CSR mengharuskan suatu perusahaan dalam
pengambilan keputusannya agar dengan sungguh-sungguh memperhitungkan akibat
terhadap seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) perusahaan, termasuk
lingkungan hidup. Hal ini mengharuskan perusahaan untuk membuat keseimbangan
antara kepentingan beragam pemangku kepentingan eksternal dengan kepentingan
pemegang saham, yang merupakan salah satu pemangku kepentingan internal.
"dunia
bisnis, selama setengah abad terakhir, telah menjelma menjadi institusi paling
berkuasa di atas planet ini. Institusi yang dominan di masyarakat manapun harus
mengambil tanggung jawab untuk kepentingan bersama....setiap keputusan yang
dibuat, setiap tindakan yang diambil haruslah dilihat dalam kerangka tanggung
jawab tersebut [1]
" CSR
merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk bertindak etis
dan memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi
dari komunitas setempat atau pun masyarakat luas, bersamaan dengan peningkatan
taraf hidup pekerjanya beserta seluruh keluarganya".
Pelaporan
dan pemeriksaan
Untuk menunjukkan bahwa perusahaan adalah warga
dunia bisnis yang baik maka perusahaan dapat membuat pelaporan atas
dilaksanakannya beberapa standar CSR termasuk dalam hal:
Laporan
berdasarkan standar akuntabilitas sosial internasional SA8000
Standar
manajemen lingkungan berdasarkan ISO 14000
Alasan
terkait bisnis (business case) untuk CSR
Skala dan sifat keuntungan dari CSR untuk suatu
organisasi dapat berbeda-beda tergantung dari sifat perusahaan tersebut. Banyak
pihak berpendapat bahwa amat sulit untuk mengukur kinerja CSR, walaupun
sesungguhnya cukup banyak literatur yang memuat tentang cara mengukurnya.
Literatur tersebut misalnya metode "Empat belas poin balanced scorecard oleh Deming. Literatur lain misalnya Orlizty,
Schmidt, dan Rynes[3]
yang menemukan suatu korelasi positif walaupun lemah antara kinerja sosial dan
lingkungan hidup dengan kinerja keuangan perusahaan. Kebanyakan penelitian yang
mengaitkan antara kinerja CSR (corporate social performance) dengan
kinerja finansial perusahaan (corporate financial performance) memang menunjukkan
kecenderungan positif, namun kesepakatan mengenai bagaimana CSR diukur belumlah
lagi tercapai. Mungkin, kesepakatan para pemangku kepentingan global yang
mendefinisikan berbagai subjek inti (core subject) dalam ISO 26000
Guidance on Social Responsibility--direncanakan terbit pada September
2010--akan lebih memudahkan perusahaan untuk menurunkan isu-isu di setiap
subjek inti dalam standar tersebut menjadi alat ukur keberhasilan CSR. Secara umum, alasan terkait bisnis untuk
melaksanakan biasanya berkisar satu ataupun lebih dari argumentasi di bawah
ini:
·Sumberdaya
manusia
·Manajemen
risiko
·Membedakan
merek
·Ijin usaha
·Motif perselisihan bisnis
CONTOH
PERUSAHAAN DALAM MENERAPKAN CSR
Contoh perusahaan yang melakukan program CSR adalah
PT indofood. Berikut merupakan artikel mengenai Program CSR yang dilakukan oleh
PT Indofood :
Indofood, sebagai Perusahaan Total Food Solutions memiliki
kepedulian dalam upaya pengembangan penganekaragaman pangan dan ketahanan
pangan nasional.
Partisipasi dalam pengembangan ini kemudian diwujudkan
melalui program Indofood Riset Nugraha (IRN) yaitu suatu program bantuan dana
penelitian (research grant) bagi kalangan akademisi yang difokuskan pada
penelitian bidang pangan. Program IRN adalah salah satu program CSR
Indofood yang berada dalam pilar “Building Human Capital”
PENGERTIAN PROGRAMINDOFOOD RISET NUGRAHA
merupakan program bantuan dana penelitian (research fund)
bagi kalangan akademisi (mahasiswa) untuk memacu lahirnya riset – riset
unggulan bidang penganekaragaman pangan dalam kerangka turut membangun
ketahanan pangan nasional.
Tema
“Mewujudkan penganekaragaman pangan yang berkesinambungan dan berorientasi
nilai tambah berbasis sepuluh komoditas”
TUJUAN INDOFOOD RISET NUGRAHA
- Meningkatkan antusiasme riset
bidang pangan dari berbagai disiplin ilmu di Indonesia
- Membangun link & match dunia
pendidikan tinggi dan industri
- Mendukung peluang aplikasi hasil
riset akademisi pada aktivitas industri
- Memberikan kontribusi bagi
peningkatan daya saing industri pangan nasional melalui inovasi produk dan
teknologi yang berbasis riset
- Turut berpartisipasi membangun
ketahanan pangan nasional
Output Program
Pada saat diluncurkan pada tahun 1998, program ini masih
dalam cakupan divisi dengan nama Bogasari Nugraha, hingga kemudian pada tahun
2006 ditingkatkan menjadi skala “corporate” dengan nama Indofood Riset Nugraha.
Hingga tahun 2010, sudah lebih dari 400 penelitian bidang pangan dibiayai oleh
program ini.
Kilas Tema Program
Tahun 1998:
Sayembara Hasil Penelitian di Bidang Gandum dan Terigu Dalam
Kurun Waktu 1988-1998. Program ini memilih riset-riset terbaik bidang gandum
dan terigu yang telah dilakukan selama 10 tahun terakhir.
Tahun 1999 – 2002:
Penelitian di Bidang Gandum/Terigu/Tepung Komposit dan
Teknologi/Mesin Pengolahan Serta Aspek Sosial Ekonomi
Tahun 2003 – 2005:
Penelitian di Bidang Penganekaragaman Pangan Berbasis Tepung
dengan Fokus 5 Komoditi (Gandum/Terigu, Jagung, Ubi Jalar, Singkong dan Pisang)
Tahun 2006 – 2007:
Penganekaragaman Pangan Berbasis Tujuh Komoditas Untuk
Mengatasi Rawan Pangan dan Perbaikan Gizi (Gandum, Jagung, Pisang, Kelapa
Sawit, Singkong, Ubi Jalar, Sagu)
Tahun 2008 – 2009:
Penganekaragaman Pangan Berbasis Sepuluh Komoditas Untuk
Mengatasi Rawan Pangan dan Perbaikan Gizi (Gandum/Terigu, Jagung, Ubi Jalar,
Pisang, Singkong, Kelapa Sawit, Sagu, Garut, Kentang, Kedelai)
Tahun 2010 – 2011:
Mewujudkan Penganekaragaman Pangan yang Berkesinambungan dan
Berorientasi Nilai Tambah Berbasis Sepuluh Komoditi (Gandum/Terigu, Jagung, Ubi
Jalar, Pisang, Singkong, Kelapa Sawit, Garut, Kentang, Kedelai, Susu beserta
turunannya)
Analisis :
Program CSR yang dilakukan PT Indofood sangatlah bermanfaat,
karena melibatkan masyarakat melalui kegiatan-kegiatan yang berbasis cinta
lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Mungkin ada beberapa orang yang menganggap program CSR yang
dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia terselip maksud untuk
“promosi”. Tetapi, bagi saya Program CSR harus dilaksanakan terus menerus
karena memang nyatanya program CSR sangat membantu kesejahteraan masyarakat,
terlepas itu merupakan kegiatan promosi atau tidak.
Saya sangat berterimakasih kepada perusahaan yang telah
melakukan program CSR.